AlQur’an adalah kalam atau firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW yang membacanya merupakan suatu ibadah (Manna’ Khalil al-Qaththan, 1994:18). Sedangkan hadis atau biasa juga disebut sunnah adalah segala perkataan, perbuatan dan hal ihwal yang berhubungan dengan nabi Muhammad SAW (Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, 1989:108).
Kesemuanyaini hanyalah beberapa ayat yang berhubungan dengan persatuan kaum Muslim. Dari sini, dan dari Al-Qur'an secara keseluruhan, dapat dipahami bahwa adalah sebuah kewajiban agama bagi: sebagaimana dijelaskan dalam hadis 1203 dan hadis 1204 diatas, hal ini diwajibkan karna taat kepada pemimpin merupakan cerminan dari ketaatan kita
AYATAL-QURAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN SAINS DAN TEKNOLOGI Surah al-Baqarah: 164 "Sesungguh nya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang
Ditegaskanpula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan di masa Nabi Ibrahim a.s., dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim a.s. bersama puteranya Ismail a.s.Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat- surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang
HaditsShahih Yang Berhubungan Dengan QS. Ali Imran (3) menjadi "Jika di antara dirimu melihat kemungkaran serta ubahlah dengan tanganmu, atau jika dirimu tidak cukup kuat untuk melaksanakannya, serta gunakanlah lisan, namun jika dirimu masih tidak cukup kuat, serta ingkarilah dengan hatimu sebab itu menjadi selemah-
DalilNasionalisme Dalam al-Qur’an dan Sunnah. Posted by Khoiron Mustafit Alwie on 19 Mei 2017. Cinta tanah air adalah salah-satu dari hal yang alami bagi manusia. Pembawaan manusia adalah mencintai tempat dimana mereka tumbuh di dalamnya. Biasanya, manusia menginginkan tempatnya lahir dan tumbuh itu menjadi tempatnya menua dan menghabiskan
DalamAlquran, kisah Nabi Adam dan Siti Hawa dikemas sedemikian rupa, digambarkan dengan begitu indah nan berhikmah, agar kita bisa mengambil pelajaran. Mari kita simak, dalam skenario besar hidup Nabi Adam, beliau mempunyai anak yang terabadikan namanya dalam sejarah. Yang satu dikenang sebagai pahlawan, yang satunya disebut
3x9hY. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul [Muhammad], dan ulil amri [pemegang kekuasaan] di antara kamu. QS. An - Nisaa' 59Di ayat ini allah memerintahkan untuk taat kepaad Allah, Rasulullah, dan pemimpin dengan cara mentaati aturan - aturannyaDalam kehidupan sehari hari wujud dari mentaati pemimpin adalah dg mentaati aturan aturan yang berlaku di daerah kita seperti peraturan lalu lintas dan lain lain A. Mengartikan QS. An-Nuur 54 dan QS. An-Nisaa 80 Tentang taat kepada Allah dan RasulNya قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ [٥٤] Katakanlah "Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling Maka Sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan [amanat Allah] dengan terang". [QS. An-Nuur 54] مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا [٨٠] Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling [dari ketaatan itu], Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka [QS. An-Nisaa 80] B. Menjelaskan Kandungan QS. An-Nuur 54 Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengatakan kepada mereka untuk taat kepada Allah SWT dan Rosul-Nya dengan sungguh-sungguh. Jangan selalu berpura-pura beriman, tetapi perbuatan dan tingkah laku mereka bertentangan dengan kat-kata yang mereka ucapkan. Ini adalah sebagai peringatan terakhir kepada mereka. Apabila mereka tetap juga berpaling dari kebenaran dan melakukan hal-hal yang merugikan perjuangan kaum Muslimin maka katakanlah kepada mereka dosa perbuatan mereka itu akan dipikul diatas pundak mereka sendiri dan tidak akan membahayakan Nabi dan kaum Muslimin sedikitpun. Mereka akan mendapatkan kemurkaan Allah SWT dan siksanNya. Bila mereka benar-benar taat dan keluar dari kesesatan dengan menerima petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya niscaya mereka akan termasuk golongan orang-orang yang beruntung. Kewajiban rasul hanya menyampaikan petunjuk dan nasihat. Menerima atau menolak adalah keputusan masing-masing, diluar tanggung jawab rasul. Allah SWT melarang Nabi menerima sumpah mereka dan menyuruh Nabi memberi peringatan terakhir agar mereka benar-benar beriman serta taat dan patuh menerima perintah Allah dan Rasul-Nya Apabila mereka tidak insaf, maka nabi dibebaskan dari tanggungjawab terhadap perbuatan mereka karena rasul hanya berkewajiban menyampaikan petunjuk dan nasihat. 1. Menjelaskan kandungan QS. An-Nisaa 80 Tentang taat kepada Allah dan RasulNya مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا [٨٠] Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling [dari ketaatan itu], Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka [QS. An-Nisaa 80] Perintah dan larangan Rasul yang tidak menyangkut urusan keagamaan umpamanya yang berhubungan dengan keduniaan seperti urusan pertanian dan pertahanan, maka rasul sendiri bersedia menerima pendapat dari sahabatnya yang lebih mengetahui masalahnya. Menurut sejarah, dalam menjaga kesopanan terhadap rasul para sahabat bertanya lebih dahulu apakah hal itu datangnya dari Allah SWT atau pendapat Rasul sendiri. Jika ditegaskan oleh Rasul bahwa ini adalah dari Allah SWT maka mereka menaati tanpa ragu-ragu dan jika dikatakan bahwa ini pendapat Muhammad maka para sahabat menemukakan pula pendapat mereka. Peristiwa ini pernah terjadi karena sahabat menghadapi perintah Rasul dalam memilih suatu tempat yang dekat ke mata air untuk kepentingan strategi pertahanan ketika perang Badar. Ketika menerangkan sebab turunnya ayat ini Muqatil meriwayatkan bahwa ketika Nabi Bersabda yang artinya ”Barang siapa mencintai aku sesungguhnya ia mencintai Allah. Dan barang siapa yang menaati aku sesunnguhnya ia menaati Allah. Orang munafik berkata, “Tidaklah kamu mendengar kata laki-laki ini [Muhammad]? Sesungguhnya ia telah mendekati syirik. Sesungguhnya ia melarang kita menyembah selain Allah dan ia menghendaki kita menjadikannya tuhan sebagaimana orang-orang Nasrani menjadikan Isa tuhan. Maka Allah menurunkan ayat ini.” [Riwayat Muqatil]. Menaati Rasul tidak dapat dikatakan perbuatan syirik, karena Rasul penyampai perintah Allah. Dengan demikian menaati Rasul adalah menaati Allah, bukan mempersekutukannya dengan Allah. Di dalam Tafsir al-Maragi dijelaskan bahwa syirik itu sendiri terdiri dari dua macam. Pertama, syirik uluhiyah, yaitu mempercayai adanya adanya sesuatu selain Allah yang mempunyai kekuatan gaib dan dapat memberi manfaat dan memberi mudarat. Kedua, syirik rububiyah,mempercayai bahwa ada sesuati selain Allah yang mempunyai hak menetapkan hukum haram dan halal, karena semua mahluk tunduk kepada kehendak_Nya. Allah menghendaki agar Rasul-Nya [Muhammad] tidak mengambil tindakan kekerasan atau paksaan terhadap orang yang tidka mneaatinya, karena ia diutus hanya sekedar menyampaikan berita gembira dan peringatan keras. Keimanan manusia pada kerasulannya tidak digantungkan kepada paksaan, tetapi kepada kesadaran setelah menggunakan pikiran. C. Menunjukkan perilaku orang yang mengamalkan QS. An-Nuur 54 dan QS. An-Nisaa 80 Tentang taat kepada Allah dan RasulNya Orang mukmin laki-laki maupun perempuan harus takut kepada Allah SWT dimana berada dengan maksud takut kepada Allah SWT disebabkan dosa-dosa yang telah dikerjakannya, dan selalu memelihara diri dari segala macam dosa-dosa yang mungkin terjadi. Siapa yang mentaati semua perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya disebabkan meyakini bahwa mengerjakan perintah Allah SWT itulah yang akan membawa kepada kebahagiaan hidup didunia dan di akhirat, meninggalkan semua larangan-Nya, akan menjauhkan mereka dari bahaya dan malapetaka di dunia dan akhirat dan selalu bertaqwa kepada-Nya, dan berbuat baik terhadap sesama manusia, maka mereka itu termasuk golongan orang-orang yang mencapai keridloaan Ilahi dan bebas dari segala siksaan-Nya di akhirat nanti. Hal ini sesuai dengan QS. An-Nuur 52 وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ [٥٢] Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan [QS. An-Nuur 52] Disamping itu juga, Allah SWT menyuruh yang baik dan mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [٧١] dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka [adalah] menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh [mengerjakan] yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;. [QS. Al Taubah 71] يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولا [٦٦] Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata "Alangkah baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah dan taat [pula] kepada Rasul". [QS. Al Ahzab 66 قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ [١٤] 14. Orang-orang Arab Badui itu berkata "Kami telah beriman". Katakanlah "Kamu belum beriman, tapi Katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS. Al Hujurat 14] D. Menerapkan dalam kehidupan perilaku untuk taat kepada Allah dan RasulNya seperti yang terkandung dalam QS. An-Nuur 54 dan QS. An-Nisaa 80 Tentang taat kepada Allah dan RasulNya قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ [٥٤] Katakanlah "Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling MakaSesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan [amanat Allah] dengan terang". [QS. An-Nuur 54] Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengatakan kepada mereka untuk taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dengan sungguh-sungguh. Jangan selalu berpura-pura beriman, akan tetapi perbuatan dan tingkah laku mereka bertentangan dengan kata-kata yang mereka ucapkan. Ini adalah sebagai peringatan terakhir kepada mereka. Apabila mereka tetap juga berpaling dari kebenaran dan melakukan hal-hal yang merugikan perjuangan kaum muslimin maka katakanlah kepada mereka bahwa dosa perbuatan mereka itu akan dipikulkan diatas pundak mereka sendiri dan tidak akan membahayakan Nabi dan kaum muslimin sedikitpun. Mereka akan mendapat kemurkaan Allah SWT dan siksaanNya. Apabila mereka benar-benar taat dan keluar dari kesasesatan dengan menerima petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya niscaya mereka akan termasuk golongan orang-orang yang beruntung. Kewajiban Rasul hanya menyampaikan petunjuk dan nasehat. Menerima atau menolak adalah keputusan masing-masing, diluar tanggung jawab Rasul. Dalam dunia pendidikan, tentunya kita melaksanakan dasar-dasar aturan-aturan telah ditetapkan oleh pendidikan nasional. Menerapkan dalam kehidupan perilaku untuk taat kepada Allah dan RasulNya seperti yang terkandung dalam QS. An-Nuur 54 dan QS. An-Nisaa 80 Tentang taat kepada Allah dan RasulNya مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا [٨٠] Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling [dari ketaatan itu], Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka [QS. An-Nisaa 80] Perintah dan larangan Rasul yang tidak menyangkut urusan keagamaan umpamanya yang berhubungan dengan keduniaan seperti urusan pertanian dan pertahanan, maka Rasul sendiri bersedia menerima pendapat dari sahabatnya yang lebih mengetahui masalahnya. Akhlak atau sopan santun sahabat berhadap Rasul ketika ada permasalahan lebih dahulu bertanya apakah hal itu datangnya dari Allah SWT atau pendapat Rasul sendiri. Jika ditegaskan oleh Rasul bahwa ini adalah dari Allah SWT maka mereka menaati tanpa ragu-ragu dan jika dikatakan bahwa ini pendapat Muhammad maka para sahabat mengemukakan pula pendapat mereka. Peristiwa ini pernah terjadi ketika sahabat menghadapi perintah Rasul dalam memilih suatu tempat yang dekat ke mata air untuk kepentingan strategi pertahanan ketika perang Badar. Allah SWT menghendaki agar Rasul-Nya [Muhammad] tidak mengambil tindakan kekerasan atau paksaan terhadap orang yang tidak menaatinya, karena ia diutus hanya sekedar menyampaikan berita gembira dan peringatan keras. Keimanan manusia pada kerasulannya tidak digantungkan kepada paksaan, akan tetapi kesadaran setelah menggunakan pikiran. Baca juga Ayat tentang nikmat Allah dan cara bersyukur
- Perilaku taat, kompetisi dalam kebaikan, dan etos kerja adalah contoh perilaku terpuji yang jika dilakukan dengan sungguh-sungguh akan mengantarkan seorang muslim pada kebahagiaan di dunia dan di mengajarkan perilaku terpuji dan akhlak mulia kepada umatnya. Perilaku terpuji ini ada yang berkaitan dengan Allah hablum minallah, dengan orang lain hablum minannas, dan dengan diri terpuji yang dikerjakan dengan ikhlas akan menguatkan iman kepada Allah dan membuat harmonis hubungan sesama muslim. Perilaku mulia di atas merupakan bagian dari akhlak mulia yang merupakan misi ajaran Islam secara universal, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak,” Baihaqi. Berikut ini penjelasan mengenai perilaku taat, kompetisi dalam kebaikan, dan etos kerja yang tinggi, sebagaimana dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti 2014 yang ditulis Mustahdi dan Mustakim. 1. Perilaku Taat pada Allah Perilaku taat kepada Allah ini termasuk bagian fastabiqul khairat yang secara bahasa dapat diartikan sebagai bersegera mentaati, menerima, dan mengikuti perintah atau syariat Allah kepada Allah SWT adalah cara untuk memanfaatkan anugerah hidup sebaik-baiknya. Hakikat menjadi seorang muslim adalah tunduk pada perintah Allah SWT yang tertuang dalam Al-Quran dan sunah Rasulullah SAW. Seseorang yang tunduk dan taat pada Allah SWT akan memperoleh ketentraman hati dan kebahagiaan hidup, sebagaimana tertera dalam Al-Quran surah Al-A'raf ayat 96 “Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah ia akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya,” QS. Al-A’raf 96. Ketaatan paling tinggi adalah tunduk pada aturan Allah, kemudian di bawahnya pada sunah Nabi Muhammad SAW. Di bawahnya lagi, ada sikap tunduk pada pemimpin, baik pemimpin pemerintah, negara, daerah, maupun pemimpin yang lain, termasuk pemimpin keluarga. “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul [Muhammad], dan Ulil Amri [pemegang kekuasaan] di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah [Al-Qur’an] dan Rasul [sunahnya], jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama [bagimu] dan lebih baik akibatnya," QS. An-Nisa 59. 2. Berkompetisi dalam kebaikan Allah SWT menciptakan manusia dalam keadaan berbangsa-bangsa, berbeda warna kulit, dan beragam suku-sukunya. Perbedaan itu jangan sampai menjadi sebab untuk saling menyalahkan, menindas, dan merendahkan satu sama lainnya. Berdasarkan perbedaan tersebut, Allah memerintahkan hambanya untuk saling berlomba-lomba dalam meraih kebaikan, sesuai dengan kadar kemampuan dan potensinya masing-masing. Dalil berlomba-lomba dalam kebaikan ini tergambar dalam firman Allah SWT surat Al Maidah ayat 48."Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat [saja], tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan,” QS. Al-Māidah 48.Selain itu, berkompetisi dalam kebaikan juga tergambar dalam firman Allah di Surat Al-Baqarah ayat 148. "Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya pada hari kiamat. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Al-Baqarah ayat 148. Rasulullah SAW pun mendorong umatnya untuk selalu berlomba dalam kebaikan seperti yang dituliskan HR. Muslim. “Bersegeralah melakukan amal-amal saleh kebajikan. Sebab sebuah fitnah akan datang bagai sepotong malam yang gelap. Seseorang yang paginya mukmin, sorenya menjadi kafir. Dan seseorang yang sorenya bisa jadi mu’min, paginya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan harga dunia.” Setidaknya terdapat dua alasan kenapa umat Islam harus berlomba-lomba melakukan kebaikan. Pertama, tidak ada yang tahu kesempatan hidup manusia. Seorang muslim harus memanfaatkan waktunya sebaik mungkin untuk melakukan kebaikan. Kematian bisa saja datang secara tiba-tiba tanpa diketahui waktu pastinya. Karena itulah, kesempatan berbuat kebaikan jangan sampai ditunda-tunda dan diakhirkan. Kedua, ketika terjadi kompetisi dalam kebaikan, maka satu sama lain akan saling termotivasi sehingga membentuk suatu lingkungan Islami yang kondusif. Lingkungan yang kondusif akan menjadikan kebaikan tersebut sebagai kebiasaan baik yang konsisten dilakukan. Tentang berkompetisi dalam kebaikan ini, Allah SWT berfirman “Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri.” QS. Al-Isra7 3. Etos kerja yang tinggi Bekerja adalah kegiatan penting yang harus dilakukan semua manusia. Dalam Islam, orang yang bekerja dengan etos tinggi memperoleh pahala dan berkah di sisi Allah SWT Hal ini tergambar dalam firman Allah dalam surah At-Taubah ayat 105 “Dan katakanlah, 'Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada [Allah] yang maha mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan,” QS. At-Taubah [9] 105.Dalam ayat lain, Allah berfirman tentang sikap terpuji dalam agama Islam iniMaka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap. asy-Syarh 7-8 Memiliki etos kerja tinggi adalah salah satu akhlak mulia seorang muslim pada dirinya sendiri. Etos kerja yang tinggi, serta tidak berpangku tangan pada orang lain adalah teladan dari Rasulullah SAW, sebagaimana sabda beliau "Barangsiapa yang pada waktu sore merasa lelah karena pekerjaan kedua tangannya [bekerja keras] maka pada saat itu dosanya diampuni,” Thabrani. Di hadis yang lain, beliau juga bersabda “Tidak seorang pun yang makan lebih baik daripada makan hasil usahanya sendiri," Bukhari.Demikian 3 sikap terpuji dalam Islam yang sebaiknya kita amalkan, yaitu perilaku taat, kompetisi dalam kebaikan, dan etos kerja yang juga Mengenal Perilaku Setia Kawan, Kerja Keras & Penyayang dalam Islam Arti Sikap Berbaik Sangka dan Simpati dalam Islam serta Contohnya Cara Membiasakan Perilaku Terpuji Percaya Diri, Tekun, dan Hemat - Pendidikan Kontributor Abdul HadiPenulis Abdul HadiEditor Dhita KoesnoPenyelaras Yulaika Ramadhani
Taat memiliki arti tunduk kepada Allah Swt., pemerintah, dsb. tidak berlaku curang, dan atau setia. Aturan adalah tindakan atau perbuatan yang harus dijalankan. Taat pada aturan adalah sikap tunduk kepada tindakan atau perbuatan yang telah dibuat baik oleh Allah Swt., nabi, pemimpin, atau yang lainnya. Aturan yang paling tinggi adalah aturan yang dibuat oleh Allah Swt., yaitu terdapat pada al-Qur’an. Sementara di bawahnya ada aturan yang dibuat oleh Nabi Muhammad Saw., yang disebut sunah atau hadis. Di bawahnya lagi ada aturan yang dibuat oleh pemimpin, baik pemimpin pemerintah, negara, daerah, maupun pemimpin yang lain, termasuk pemimpin keluarga. Peranan pemimpin sangatlah penting. Sebuah institusi, dari terkecil sampai pada suatu negara sebagai institusi terbesar, tidak akan tercapai kestabilannya tanpa ada pemimpin. Tanpa adanya seorang pemimpin dalam sebuah negara, tentulah negara tersebut akan menjadi lemah dan mudah terombang-ambing oleh kekuatan luar. Oleh karena itu, Islam memerintahkan umatnya untuk taat kepada pemimpin karena dengan ketaatan rakyat kepada pemimpin selama tidak maksiat, akan terciptalah keamanan dan ketertiban serta kemakmuran. Al-Qur'an Surat An-Nisa' Ayat 59. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا Artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul Muhammad, dan Ulil Amri pemegang kekuasaan di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah al-Qur’an dan Rasul sunnahnya, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.” an-Nisa/4 59 Kandungan Al-Qur'an Surat An-Nisa' Ayat 59. Asbabu al-Nuzul atau sebab turunnya ayat ini menurut Ibn Abbas adalah berkenaan dengan Abdullah bin Huzaifah bin Qays as-Samhi ketika Rasulullah saw. mengangkatnya menjadi pemimpin dalam sariyyah perang yang tidak diikuti oleh Rasulullah Saw.. As-Sady berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Amr bin Yasir dan Khalid bin Walid ketika keduanya diangkat oleh Rasulullah Saw. sebagai pemimpin dalam sariyah. Al-Qur'an Surat an-Nisa/4 59 memerintahkan kepada kita untuk menaati perintah Allah Swt., perintah Rasulullah Saw., dan ulil amri. Tentang pengertian ulil amri, di bawah ini ada beberapa pendapat. 1. Abu Jafar Muhammad bin Jarir at-Thabari. Arti ulil amri adalah umara, ahlul ilmi wal fiqh mereka yang memiliki ilmu dan pengetahuan akan fiqh. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa sahabat-sahabat Rasulullah Saw. itulah yang dimaksud dengan ulil amri. 2. Al-Mawardi. Ada empat pendapat dalam mengartikan kalimat "ulil amri", yaitu 1 umāra para pemimpin yang konotasinya adalah pemimpin masalah keduniaan, 2 ulama dan fuqaha, 3 sahabat-sahabat Rasulullah Saw., 4 dua sahabat saja, yaitu Abu Bakar dan Umar. 3. Ahmad Mustafa al-Maraghi. Bahwa ulil amri itu adalah umara, ahli hikmah, ulama, pemimpin pasukan dan seluruh pemimpin lainnya. Kita memang diperintah oleh Allah Swt. untuk taat kepada ulil amri apa pun pendapat yang kita pilih tentang makna ulil amri. Namun, perlu diperhatikan bahwa perintah taat kepada ulil amri tidak digandengkan dengan kata “taat”; sebagaimana kata “taat” yang digandengkan dengan Allah Swt. dan rasul-Nya. Quraish Shihab, Mufassir Indonesia, memberi ulasan yang menarik “Tidak disebutkannya kata “taat” pada ulil amri untuk memberi isyarat bahwa ketaatan kepada mereka tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan atau bersyarat dengan ketaatan kepada Allah Swt. dan rasul-Nya. Artinya, apabila perintah itu bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Allah dan rasul-Nya, tidak dibenarkan untuk taat kepada mereka." Lebih lanjut Rasulullah Saw. menegaskan dalam hadis berikut ini Artinya “Dari Abi Abdurahman, dari Ali sesungguhnya Rasulullah bersabda... Tidak boleh taat terhadap perintah bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang makruf.” HR. Muslim Umat Islam wajib menaati perintah Allah Swt. dan rasul-Nya dan diperintahkan pula untuk mengikuti atau menaati pemimpinnya. Tentu saja, apabila pemimpinnya memerintahkan kepada hal-hal yang baik. Apabila pemimpin tersebut mengajak kepada kemungkaran, wajib hukumnya untuk menolak. Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang kandungan Al-Qur'an Surat An-Nisa’ Ayat 59 tentang taat kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri. Kunjungilah selalu semoga bermanfaat. Aamiin.
pentingnya taat kepada aturan, kesimpulan, hadits, contoh makna dan hikmah taat. hal ini digambarkan dalam surat an-Nisā. pentingnya taat kepada aturan sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang terdapat pada surat an Nisa ayat 59. – assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh, membahas tentang materi taat pada aturan kelas 11 bab VI dengan judul pokok Membangun Bangsa melalui Perilaku Taat, Kompetisi dalam Kebaikan, dan Etos Kerja. dalam postingan tulisan ini akan membahas tentang kesimpulan, contoh, makna dan hikmah pentingnya taat kepada aturan. Untuk menjawab soal-soal dalam ulangan ujian maupun tes semester maupun mid semesteran pada pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas 1 SMA atau kelas 11. Langsung saja berikut informasinya. Pengertian Taat dan aturan Pengertian Taat adalah tunduk kepada Allah Swt., pemerintah, dsb. tidak berlaku curang, dan atau setia. Sedangkan pengertian aturan adalah adalah tindakan atau perbuatan yang harus dijalankan. Taat pada aturan adalah sikap tunduk kepada tindakan atau perbuatan yang telah dibuat baik oleh Allah Swt., nabi, pemimpin, atau yang lainnya. Pentingnya taat kepada aturan ini sesuai dengan firman Allah SWT yang terdapat dalam surat an Nisa ayat 59. Adapun teks tulisan arab surat an nisaa ayat 59 beserta teks latin dan arti terjemahnya adalah sebagai berikut; يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ – ٥٩ Teks latin Yā ayyuhallażīna āmanū aṭī’ullāha wa aṭī’ur-rasụla wa ulil-amri mingkum, fa in tanāza’tum fī syaiin fa ruddụhu ilallāhi war-rasụli ing kuntum tuminụna billāhi wal-yaumil-ākhir, żālika khairuw wa aḥsanu ta`wīlā Artinya Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul Muhammad, dan Ulil Amri pemegang kekuasaan di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah Al-Qur’an dan Rasul sunnahnya, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya. hadits tentang pentingnya taat kepada aturan berikut adalah hadits yang tercantum dalam pelajaran PAI kelas 11 berkenaan dengan taat aturan. Dalam tulisan arab teks latin lengkap dengan arti terjemahan bahasa Indonesia. hadits riwayat dari Abi Abdurrahman, dari Ali Hadits Riwayat Imam Bukhari nomor 7257 dan Imam Muslim nomor 1840, Sesungguhnya Rasulullah bersabda; لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ Laa thaa’ata fii ma’shiyyatin innama-th thaa’atu fil ma’ruuf. Artinya tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf contoh taat pada aturan misalnya ada contoh soal yang berbunyi “berikan contoh bahwa sangat penting taat pada aturan! Maka anda dapat memberikan jawaban sebagaimana berikut ini; Perilaku mulia ketaatan yang perlu dilestarikan adalah seperti berikut. Selalu menaati perintah Allah Swt. dan rasul-Nya, serta meninggalkan larangan-Nya, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit. Contoh, menjalankan salat wajib, puasa zakat dan kewajiban lain. Merasa menyesal dan takut apabila melakukan perilaku yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya. Misalnya meninggalkan salat, meninggalkan puasa wajib, tidak mau bayar zakat dan lain lain. Menaati dan menjunjung tinggi aturan kesepakatan, baik di rumah, di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Contoh, masuk kelas sesuai aturan, memakai baju seragam sebagaimana ketentuan. Mengerjakan tugas yang diberikan guru pendidik. Membersihkan jalan desa setiap dua bulan sekali dan lainnya. Menaati pemimpin selagi perintahnya sesuai dengan tuntunan dan syariat agama. Menikah sesuai dengan syarat dan ketentuan, larangan melakukan ujaran kebencian, dll. Menolak dengan cara yang baik apabila pemimpin mengajak kepada kemaksiatan. Mengajak untuk membiasakan minum khamr, melepaskan koruptor dengan sengaja dan lain lain. Contoh pentingnya taat pada aturan misalnya ; Sangat penting taat aturan dalam berlalu lintas supaya pengendara maupun pejalan kaki lebih aman selamat dan tidak terjadi korban kecelakaan. Contoh lain ; pentingnya taat pada aturan dalam hal antri dalam rangka tertib tidak semrawut dang menghindarkan debat maupun perkelahian yang tidak perlu karena rebutan urutan pelayanan. hikmah dan makna taat pada aturan Hikmah dan makna tertinggi ketaatan yaitu kepada Allah dan Rasulnya, kemudian kepada ketentuan lain selama bukan dalam hal maksiat. Makna taat aturan yaitu mengikuti perintah dan ketentuan yang telah dibuat atau disepakati maupun ada keberadaannya baik karena kesepakatan ataupun penetapan. hikmah dan makna taat aturan adalah bahwasanya ketaatan hanyalah dalam hal yang baik ma’ruf bukan untuk maksiat. Maknanya kita boleh menolak perintah yang memerintahkan kepada maksiat. Dalam buku PAI menyebutkan penolakan ini dengan cara yang baik sopan dan halus. kesimpulan pentingnya taat kepada aturan Dalil al-Qur’an tentang taat pada aturan terdapat dalam surat An Nisaa ayat 59. Aturan yang paling tinggi adalah aturan yang dibuat oleh Allah Swt., yaitu terdapat pada al-Qur’ān. Di bawahnya ada aturan yang dibuat oleh Nabi Muhammad saw., disebut sunah atau hadis. selanjutnya lagi ada aturan yang dibuat oleh pemimpin, baik pemimpin pemerintah, negara, daerah, maupun pemimpin yang lain, termasuk pemimpin keluarga. Taat untuk perkara yang ma’ruf, bukan dalam maksiat. Taat aturan juga memudahkan kita sendiri dan orang lain untuk mengarungi kehidupan, mengatur menjadi lebih tertata, kejelasan status kepemilikan hak dan kewajiban. Contoh taat aturan lalu lintas menjadikan situasi lebih tertata. Demikian ide tentang taat kepada peraturan secara ringkas, adik-adik yang ganteng dan cantik kelas 1 SMA atau kelas 11 bisa mengembangkan lebih kompleks dan komprehensif. Selamat belajar, membuat tugas, mengerjakan ujian, semoga sukses saat ini dan masa depan selalu dan selamanya. Wassalaamu’alaikum wa rahmatullah wr. wb.
Secara terminologis arti kata etika sangat dekat pengertiannya dengan istilah Al- Qur’an yaitu al-Khuluq. Untuk mendeskripsikan konsep kebajikan, Al-Qur’an menggunakan sejumlah terminologi sebagai berikut khair, bir, adl, haq, ma’ruf, dan taqwa Badroen, 2006. Menurut ajaran Islam, akhlak adalah perilaku yang berhubungan dengan ketaatan terhadap perintah dan aturan yang telah ditentukan oleh Allah SWT dalam berbagai aspek kehidupan. Akhlak berkaitan dengan kewajiban bagi setiap individu umat Islam dalam kehidupan sehari-hari Kanter, 2001. Etika dalam Islam juga dapat disebut akhlak. Menurut M. Yatimin Abdullah Etika Islam merupakan ilmu yang mengajarkan dan menuntun manusia kepada tingkah laku yang baik dan menjauhkan diri dari tingkah laku buruk sesuai dengan ajaran Islam yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits. Etika Islam mengatur, mengarahkan fitrah manusia dan meluruskan perbuatan manusia di bawah pancaran sinar petunjuk Allah SWT, menuju keridhaan-Nya. Manusia yang melaksanakan etika Islam niscaya selamat dari pikiran-pikiran dan perbuatan-perbuatan yang keliru dan menyesatkan Abdullah, 2006. Konsep etika penegakan hukum dalam Al-Qur’an berlandaskan pada nilai al-qisth kesamaan, al-adl keadilan, dan al-bir kebaikan. Berlaku adil dilakukan dalam keadaan apapun, sebagaimana firman Allah berikut َِّطۡسِّقۡلٱِّبَ ءٓا د ہُشَِّ َّ ِّلِلَّ نيِّمٲ َّو قَْاوُنوُكَْاوُن ما ءَ نيِّذَّلٱَا ہُّي أٰٓـ ي َۖ َ شَ ۡمُڪَّن م ِّر ۡج يَ لَ وَ َْاوُلِّدۡع تَ َّلَ أَ ٰٓى ل عَ ٍم ۡو قَ ُنأَـ ن َۚ َٰى وۡقَّتلِّلَ ُب رۡق أَ وُهَْاوُلِّدۡعٱَ ََۖ َ َّلِلّٱَْاوُقَّتٱ و َۚ َ َّلِلّٱََّنِّإَ َ نوُل مۡع تَا مِّبَ ُۢريِّب خَ َ 156 “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Al-Maaidah [5] 8 Etika dalam Islam mengajarkan dan menuntun manusia kepada tingkah laku yang baik dan menjauhkan diri dari tingkah laku yang buruk. Etika Islam menetapkan bahwa yang menjadi sumber moral, ukuran baik buruknya perbuatan, didasarkan kepada ajaran Allah SWT Al-Qur’an dan ajaran rasul-Nya Sunnah. Etika Islam bersifat universal dan komprehensif, dapat diterima oleh seluruh umat manusia di segala waktu dan tempat. Etika Islam mengatur dan mengarahkan fitrah manusia ke jenjang akhlak yang luhur Akhlaqul Karimah dan meluruskan perbuatan manusia di bawah petunjuk Al-Qur’an untuk menyelamatkan manusia dari perilaku yang keliru dan menyesatkan. Dengan ajaran Islam yang praktis dan tepat, cocok dengan fitrah naluri dan akal pikiran manusia, maka etika Islam dapat dijadikan pedoman hidup oleh seluruh manusia Ya’qub,1993. Islam memandang etika adalah bagian dari akhlak manusia karena akhlak bukanlah sekedar menyangkut perilaku yang bersifat lahiriah semata, tetapi mencakup hal-hal yang kompleks, yaitu mencakup bidang, akidah, ibadah, dan syari’ah Nuh, 2011. Al-Qur’an menyinggung penegak hukum diperintahkan untuk adil dan konsisten pada kebenaran. Hal ini merupakan refleksi etika penegak hukum, khususnya penegak hukum, seperti polisi, jaksa, hakim, dan advokat dalam menegakan keadilan yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits, sebagaimana berikut َْاوُمُك ۡح تَن أَ ِّساَّنلٱَ نۡي بَمُت ۡم ك حَا ذِّإ وَا هِّلۡه أَ ٰٓى لِّإَِّتٰـ نٰـ م ۡلۡٱَْاوُّد ؤُتَن أَ ۡمُكُرُمۡأ يَ َّلِلّٱَ َّنِّإ َ َِّلۡد عۡلٱِّب َۚ َمُكُظِّع يَاَّمِّعِّنَ َّلِلّٱَ َّنِّإَ َۤۦِّهِّب َۗ َ نا كَ َّلِلّٱَ َّنِّإَ ا ري ِّص بَاۢ عيِّم س َ “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.” An-Nisaa’ [4] 58 ََُّلِلّٱَ كٰٮ ر أَٓا مِّبَ ِّساَّنلٱَ نۡي بَ مُك ۡح تِّلَِّ ق حۡلٱِّبَ بٰـ تِّكۡلٱَ كۡي لِّإَٓا نۡل زن أَٓاَّنِّإ َۚ ا مي ِّص خَ نيِّنِٕٮٓا خۡلِّ لَنُك تَ لَ وَ َ “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang orang yang tidak bersalah, karena membela orang-orang yang khianat.” An-Nisaa’ [4] 105 ٲ وۡلٱَِّو أَ ۡمُكِّسُفن أَ ٰٓى ل عَ ۡو ل وَِّ َّ ِّلِلَّ ءٓا د ہُشَِّطۡسِّقۡلٱِّبَ نيِّمٲ َّو قَْاوُنوُكَْاوُن ما ءَ نيِّذَّلٱَا ہُّي أٰٓـ ي َ نيِّب رۡق ۡلۡٱ وَِّنۡي دِّل َۚ َ ٰى ل ۡو أَُ َّلِلّٱ فَا ً۬ ريِّق فَ ۡو أَا يِّن غَ ۡنُك يَنِّإَ ا مِّہِّب َۖ َِّدۡع تَن أَ ٰٓى و هۡلٱَْاوُعِّبَّت تَ لَ فَ َْاوُل َۚ ا ريِّب خَ نوُل مۡع تَا مِّبَ نا كَ َّلِلّٱََّنِّإ فَْاوُض ِّرۡعُتَ ۡو أَْاۤۥ ُوۡل تَنِّإ وَ َ “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan kata-kata atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” An- 157 ُسَر ُتْعَِس َلاَقَ ف ،َسَلَجَف ،اَنْ يَلِإ َجَرَخَف ،َرَمُع ِنْب ِالله ِدْبَعِل اَنْسَلَج َلاَق ،ٍدِشاَر ِنْب َيَْيُ ْنَع وُقَ ي َمَّلَس َو ِهْيلَع ِالله َّلَص ِالله َلو ُهُتَعاَفَش ْتَلاَح ْنَم ُل ِطَخَس ِفِ ْلَزَ ي َْلِ ،ُهُمَلْعَ ي َوُهَو ،ٍلِطَبَ ِفِ َمَصاَخ ْنَم َو ،َالله َّداَض ْدَقَ ف ،ِالله ِدوُدُح ْنِم ٍ دَح َنوُد ،ِهيِف َسْيَل اَم ٍنِمْؤُم ِفِ َلاَق ْنَم َو ،ُهْنَع َعِزْنَ ي َّتََّح ِالله َةَغْدَر ُالله ُهَنَكْسَأ .َلاَق اَِّمّ َجُرَْيَ َّتََّح ،ِلاَبَْلِا “Dari Yahya bin Rasyid, dia berkata kami bertamu di rumah Abdullah bin Umar, sebentar kemudian dia keluar untuk menemui kami dan duduk bersama, lalu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa memberikan pertolongan di luar batas aturan Allah, berarti dia telah melawan Allah. Barangsiapa memperjuangkan suatu kebatilan sedangkan dia tahu itu adalah perbuatan batil, maka Allah akan selalu murka kepadanya, kecuali dia berhenti melakukannya. Barangsiapa menuduh tanpa bukti tentang suatu perkara kepada seorang mukmin, maka Allah akan menceburkannya ke dalam Radghat Al-Khibal neraka, kecuali dia mencabut kembali perkataannya tersebut”. Abu Dawud 3597. ِبَأ ْنَع َةَدْيَرُ ب ِنْبا ْنَع َّنَْلْا ِفِ ٍضاَقَو ِراَّنلا ِفِ ِناَيِضاَق ٌةَث َلاَث ُةاَضُقْلا َلاَق َمَّلَسَو ِهْيَلَع َُّللَّا ىَّلَص َِّبَِّنلا َّنَأ ِهي ِراَّنلا ِفِ َكاَذَف َكاَذ َمِلَعَ ف ِ قَْلِا ِْيَغِب ىَضَق ٌلُجَر ِة ِفِ َوُهَ ف ِساَّنلا َقوُقُح َكَلْهَأَف ُمَلْعَ ي َلَ ٍضاَقَو ِةَّنَْلْا ِفِ َكِلَذَف ِ قَْلِِبَ ىَضَق ٍضاَقَو ِراَّنلا “Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda "Hakim itu ada tiga, dua di neraka dan satu di surga seseorang yang menghukumi secara tidak benar padahal ia mengetahui mana yang benar, maka ia di neraka. Seorang hakim yang bodoh lalu menghancurkan hak-hak manusia, maka ia di neraka. Dan seorang hakim yang menghukumi dengan benar, maka ia masuk surga." HR. At-Tirmidzi 1244 Kandungan ayat Al-Qur’an dan hadits di atas, menuntut bahwa keadilan harus ditegakkan. Untuk mewujudkan cita-cita keadilan tersebut diperlukan usaha yang sungguh- sungguh, serta kemampuan intelektual yang sesuai dengan syari’at Islam guna mendapatkan makna keadilan sesuai ketentuan Allah SWT berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. Dalam hubungan dengan kehidupan sesama manusia, pokok-pokok ajaran Islam dalam Al-Qur’an memberikan dasar yang kokoh dan permanen bagi seluruh prinsip etika dan moral yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan dan memberikan jawaban yang komprehensif dan menyeluruh untuk segala persoalan tingkah laku manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat. Sebagai tujuan menciptakan kehidupan yang berimbang di dunia demi mencapai tujuan kebahagiaan di akhirat Rusdji Ali, 2004. C. RANGKUMAN Hubungan ilmu dengan kemanusiaan memiliki hubungan yang sangat erat. Hal ini dikarenakan ilmu bisa berkembang karena keberadaan manusia, dan manusia mewujudkan sifat-sifat baiknya untuk memelihara kelangsungan hidup ini di dunia dan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya juga dengan ilmu. Ilmu pada dasarnya ditujukan untuk kemaslahatan hidup manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat, dan kelestarian manusia yang didasarkan pada tugas dan kedudukan manusia sebagai khalifah dan Abdullah abid. Sedangkan konsep etika penegakan hukum dalam Islam berlandaskan pada nilai al-qisth kesamaan, al-adl keadilan, dan al-bir kebaikan. 158 D. LATIHAN/TUGAS/EKSPERIMEN Mahasiswa mendiskusikan nilai al-qisth kesamaan, al-adl keadilan, dan al-bir kebaikan dalam penegakkan hukum di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Abdullah, M. Yatimin. 2006. Pengantar Studi Etika. Jakarta PT. Rajagrafindo Persada. An-Nabhani, Taqiyuddin. 2001. Nizhamul Islam. Bogor Pustaka Thariqul Izzah. Badroen, Faisal, dkk. 2006. Etika BisnisDalam Islam. Jakarta Kencana. Bakhtiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta PT RajaGrafindo Persada. Kanter, 2001. Etika Profesi Hukum Sebuah Pendekatan Sosio-Religius. Jakarta Storia Grafika. Nuh, Muhammad. 2011. Etika Profesi Hukum. Bandung Pustaka Setia. Rusdji Ali, Muhammad. 2004. Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Syari’at Islam Mengenal Jati Diri Manusia. Jakarta Mihrab. Sulaiman, Abdul Hamid. 1994. Permasalahan Metodologis Dalam Pemikiran Islam. Jakarta Media Da’wah. Surajiyo. 2010. Fislafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta PT. Bumi Aksara. Suriasumantri, Jujun. S. 2010. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta Pustaka Sinar Harapan. 159 BAB III
ayat dan hadis yang berhubungan dengan ketaatan pada aturan